Contoh Penulisan Rumusan Masalah Skripsi

Contoh Penulisan Rumusan Masalah Skripsi 

Sebelum kita memulai pembahasan yang berikutnya, kita pasti sudah tahu apa itu SKRIPSI. SKRIPSI adalah sebuah karya ilmiah yang wajib dibuat oleh mahasiswa(i) untuk menyelesaikan pendidikan S1 serta menggapai gelar sarjana. Sebuah skripsi terdiri dari 5 bab yang di dalam tiap bab-nya telah ditentukan pembahasan yang akan dipaparkan secara jelas. Pada bab I yang akan dibahas adalah pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, dan Manfaat Penelitian. Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas tentang beberapa Contoh Latar Belakang skripsi. Bahkan kamipun telah memberikan beberapa Contoh Judul Skripsi. Maka pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan beberapa Contoh Rumusan Masalah. Yang dibahas dalam rumusan masalah adalah hal-hal yang masih dalam tanda tanya dan jawabannya akan ditemukan setelah melalui suatu penelitian.

Rumusan Masalah biasanya menjadi batu sandungan yang besar dalam membuat sebuah skripsi apabila penulis tidak terlalu memahami masalah yang akan dikaji dalam skripsi. Dapat dikatakan bahwa rumusan masalah merupakan salah satu dari tahapan yang ada di antara sejumlah tahapan penelitian yang mempunyai kedudukan penting di dalam aktivitas penelitian yang dikaji dalam sebuah skripsi. Apabila tanpa rumusan masalah, maka suatu kegiatan penelitian akan sia-sia atau bahkan tidak bisa membuahkan hasil sama sekali. Sehingga proses penulisan skripsipun akan ikut menjadi sia-sia. Di dalam rumusan masalah sendiri diperlukan untuk memperhatikan bentuk-bentuk masalah. Dalam rumusan masalah perlu diperhatikan bentuk-bentuk masalah.

Sugiyono (2000) menyebutkan ada tiga bentuk masalah yaitu :

1. Masalah Deskriptif
Masalah deskriptif yaitu masalah yang berkenaan dengan pernyataan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam peneltian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif.

2. Masalah Komparatif
Masalah komparatif adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.


3. Masalah Asosiatif
Masalah asosiatif adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan tersebut bisa simetris, kausal, maupun hubungan timbal balik.
  • Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersamaan. Jadi bukan hubungan kausal ataupun interaktif.
  • Hubungan kausal adalah hubungan yanga bersifat sebab akibat. Dalam hal ini ada variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen.
  • Hubungan timbal balik atau interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variabel dependen dan variabel independen

Contoh Rumusan Masalah

1. Contoh Masalah Deskriptif yaitu Bagaimana sikap masyarakat mengenai perguruan tinggi berbadan hukum?
  • Seberapa efektifkah kebijakan mobil berpenumpang 3?
  • Seberapa tinggi apresiasi dan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah?


2. Contoh Masalah Komparatif yaitu :
  • Apakah ada perbedaan kinerja antara pegawai swasta dan negeri? (satu variabel, dua sampel).
  • Apakah ada perbedaan kedisiplinan dan kemampuan kerja antara pegawai negeri dan swasta? (dua variabel, dua sampel)
  • Apakah ada perbedaan ketahanan berdiri dari pelayan toko asal desa, kota dan gunung? (satu variabel, dua tiga sampel).

3. Contoh Masalah Asosiatif
  • Apakah ada pengaruh dari sistem penggajian dengan prestasi kerja? (Hubungan Kasual)
  • Seberapa besarkah pengaruh tata ruangan terhadap kinerja karyawan? (Hubungan Kasual)
  • Apakah ada pengaruh pendidikan orang tua dengan prestasi belajar anak? (Hubungan Kasual)
  • Apakah ada hubungan antara jumlah payung terjual dengan jumlah kejahatan? (Hubungan Simetris)
  • Hubungan di antara motivasi terhadap prestasi. (Hubungan Timbal Balik)
  • Hubungan di antara kecerdasan terhadap kekayaan (Hubungan Timbal Balik)

Demikianlah pemaparan tentang Contoh Rumusan Masalah. Semoga artikel ini dapat memberikan sedikit pencerahan bagi Anda yang sedang dalam penulisan SKRIPSI. Sedangkan buat Anda yang masih bingung untuk menentukan judul skripsi Anda, Silahkan buka Contoh Judul Skripsi. Adapun beberapa Contoh Skripsi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan atau bantuan dalam menyelesaikan skripsi yang sedang Anda tulis
.

Contoh Latar Belakang Skripsi Yang Baik dan Benar 2015

Latar belakang skripsi adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan pada skripsi yang akan kita tulis. Latar belakang sangatlah penting untuk mendukung suatu skripsi, karena merupakan bagian dari pendahuluan sebuah skripsi. Latar belakang skripsi biasanya disertai penjelasan singkat apa yang akan dibahas pada skripsi tersebut. Biasanya memberikan sedikit data atau fakta untuk mendukung suatu skripsi. Penulisan dalam hal ini ditekankan harus jelas agar memudahkan pembaca memahami isi dari latar belakang skripsi tersebut. Sekali lagi ditekankan pilihlah kata-kata atau kalimat yang bisa merangkum maksud, tujuan, pembahasan skripsi tersebut pada saat anda menulis latar belakangnya.





Penulisan layar belakang dalam suatu skripsi sangat berpengaruh bagi kelanjutan skripsi tersebut. Dalam penulisan latar belakang skripsi harus memuat hal yang akan dibahas dalam sebuah skripsi, tidak sembarangan dan tidak asal panjang lebar. Beberapa hal penting yang harus dibahas dalam pembuatan latar belakang akan dibahas berikut ini sesuai dengan urutannya.


Beberapa hal yang dibahas dalam latar belakang skripsi yaitu :

1. Fenomena/Kabar Terbaru


Mengemukakan berbagai keadaan di masyarakat atau di kalangan tertentu yang berhubungan dengan masalah yang akan di teliti. Misalnya berbagai kebijakan pemerintah, masalah pendidikan, kenakalan remaja, prestasi siswa dll

2. Kondisi Ideal Didukung Teori-teori Terbaru

Mengemukakan kondisi yang diharapkan oleh siswa, masyarakat atau pemerintah didukung oleh pemaparan berbagai kajian teori yang merujuk kondisi yang diinginkan atau kondisi yang seharusnya.

3. Kondisi Empiris


Mengemukakan kondisi yang terjadi terhadap obyek yang akan di teliti disertai berbagai bukti yang mendukung terhadap pengungkapan kondisi tersebut.

4.Penemuan Masalah


Berdasarkan pengungkapan kondisi ideal dan kondisi empiris (No. 2 dan No. 3) di atas maka akan muncul ketimpangan antara keduanya yang kemudian akan di analisis dan di teliti.


5. Alasan Penelitian


Pada bagian akhir penulisan Latar Belakang kemukakan pentingnya penulisan dan pentingnya pemilihan permasalahan yang di teliti serta 

Berikut ini kami akan berikan beberapa contoh latar belakang skripsi bagi kalian mahasiswa yang sedang menyusun skripsi dan mengalami kebingungan dalam membuat latar belakang. Check this out. 

Contoh Latar Belakang Skripsi #1

Pendidikan merupakan cara untuk mencerdaskan bangsa yang sesuai dengan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea ke-4 serta ingin mencapai tujuan pendidikan nasional. Perkembangan jaman saat ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan negara lain yang telah maju. Pendidikan mepunyai peranan yang sangat peniting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang berkualiats akan berpengaruh pada kemajuan diberbagai bidang. Di samping mengusahakan pendidikan yang berkualitas, pemerintah perlu melakuakn perataan pendidikan dasar badi setiap Warga Negara Indonesia, agar mampu berperan serta dalam memajukan kehidupan bangsa.


Pendidian merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan melalui sektor pendidikan dapat dibentuk manusia yang berkualitas, seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 bahwa:


Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak seperti peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Demikian juga halnya dengan dunia pendidikan yang terdapat banyak persaingan-persaingan siswa dalam belajar. Hal tersebut terjadi karena para siswa menginginkan presatsi belajar yang lebih baik dari teman-temannya. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai siswa selama mengikuti pelajaran pada periode tertentu dalam suatu lembaga pendidikan di mana hasilnya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol lainnya.


Prestasi belajar akuntansi adalah suatu kemampuan siswa dalam menguasai pengetahuan akuntansi, sikap, ketrampilan, baik mempelajari, memahami dan mampu mengerjakan atau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kauntansi ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru.


Prestasi belajar akuntansi yang diperoleh siswa dapat diukur secara langsung dengan test dan dapt dihitung hasilnya. Prestasi belajar akuntansi tidak hanya memberikan informasi mengenai kemnajuan siswa umum tentang kemajuan kegiatan pendidikan di sekolah dalam mata pelajaran akuntansi.


Dalam proses belajar mengajar akuntansi kelas XI SMA Negeri 1 Bambanglipuro mengalami masalah dalam belajar yang berakibat pada rendahnya prestasi belajar akuntansi. Meskipun tidak semua siswa mengalami hal tersebut. Karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Untuk meningkatkan prestasi belajar akuntansi yang sesuai dengan harapan, pihak sekolah telah mengupayakan berbagai usaha. Pihak sekolah telah berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar. Hali ini dilakukan dengan meningkatkan kemampuan akademis guru, kemampuan manajerial, kemampuan memberikan materi dan kemampuan berorientasi kepada siswa. Namun terkadang prestasi belajar akuntansi yang dicapai belum sesuai dengan yang diharapkan. Untuk mengetahui hal tersebut perlu ditelusuri faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar akuntansi.


Prestasi belajar akuntansi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar akauntansi secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: Pertama, faktor intern atau berasal dari dalam diri siswa meliputi fakrtor jasmani dan psikologis. Faktor jasmani terdiri dari kesehatan dan cacat tubuh, sedangkan faktor psikologis terdiri dari intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kelelahan. Kedua, faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri siswa, antara lain: factor keluarga meliputi cara orangtua mendidik, sosal ekonomi, faktor sekolah dan faktor masyarakat.


Siswa sebagai faktor utama dalam kegiatan belajar di sekolah. Masing-masing siswa mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga menyebabkan perbedaan dalam meningkatkan prestasi belajar. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan munculnya siswa yang memiliki prestasi tinggi, sedang atau rendah. Demikian pula pada SMA Negeri 1 Bambanglipuro, prestasi belajar akuntansi yang dimiliki siswa kelas XI jurusan IPS juga berbeda-beda. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh besar yaitu status sosial ekonomi. Status sosial ekonomi orang tua berperan penting dalam mendukung prestasi belajar akuntansi siswa. Menurut Dimyati Mahmud (1998:101), “Status sosial ekonomi orang tua meliputi tingkat pendapatan, tingkat penghasilan, jenis pekerjaan, jabatan orangtua, fasilitas khusus dan barang-barang berharga yang ada di rumah seperti radio, tv, almari es, dll. Di SMA Negeri 1 Bambanglipuro menurut observasi masih terdapat siswa yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah. Hal ini dapat dilihat dari pendidikan orang tua dan penghasilan orangtua. Sebagian besar pekerjaan oaring tua siswa kelas XI jurusan IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro sebagai buruh, petani atau pegawai swasta, meskipun juga ada yang berasal dari golongan status sosial ekonomi tinggi. Siswa yang berasal dari golongan sosial ekonomi tinggi akan banyak mendapatkan fasilitas,

sarana dan perhatian dalam belajarnya. Adanya fasilitas belajar mengajar yang memadai akan mendukung proses belajar siswa sehingga memungkinkan prestasi belajar siswa tinggi. Sebaliknya siswa yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah, memungkinkan anak mengalami kesulitan-kesulitan dalam belajar karena kurangya dukungan moral maupun material orang tua sehingga ada kecenderungan prestasi belajar anaknya rendah.


Faktor dari luar siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar akuntansi adalah lingkungan belajar siswa. Lingkungan belajar siswa baik yang bersifat fisik maupun sosial termasuk di dalamya yaitu lingkuang keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan alam, lingkungan sekolah mempunyai peran yang besar dalam mendukung proses belajar di rumah. Tersedianya tempat belajar khusus, alat-alat belajar, penerangan yang cukup, perhatian dari orang tua, serta suasana rumah yang tenang akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar siswa. Siswa akan mempunyai semangat dan tenang dalam belajar sehingga prestasi belajarnya akan tinggi.


Prestasi belajar akuntansi tidak akan pernah dihasilkan oleh seseorang bila orang tersebut tidak melakukan usaha untuk memperbaikinya. Sehingga untuk meningkatkan prestasi tersebut pihak sekolah telah berupa dalam berbagai hal. Namun upaya tersebut berbenturan dengan alokasi waktu yang di tetapkan untuk pelajaran akuntansi pada sekolah SMA. Pada SMA 1 Bambanglipuro alokasi waktu yang diberikan untuk pelajaran akuntansi bagi kelas XI IPS adalah 4 jam pelajaran utuk setiap minggu. Waktu tersebut dirasa sangat kurang dibandingkan dengan materi yang harus dikuasai para siswa.


Frekuensi belajar merupakan suatu hal yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran akuntansi. Dalam proses belajar mengajar, tanpa adaya keaktifan anak belajar tidak akan mencapai hasil yang ma ksimal. Sering dijumpai pada individu yang malas belajar jika tidak ada ulangan atau jika tidak ada tugas dari sekolah. Di samping itu, individu yang kurang mempunyai keinginan untuk mengembangkan potensi kreatif yang ada dalam dirinya. Hal ini tampak terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Siswa kurang efektif dan responsif terhadap materi yang disampaikan. Kondisi semacam ini menjadikan siswa lebih banyak tergantung pada pendidik.


Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Antara Status Sosial Ekonomi Orang Tua Dan Lingkungan Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bambanglipuro Tahun Ajaran 2011/2012”.


Contoh Latar Belakang Skripsi #2
Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multi kompetensi manusia harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, proses pembelajaran hendaknya bisa mengembangkan kemampuan dan membentuk watak manusia sehingga tercipta pendidikan yang berkualitas.


Pembelajaran merupakan suatu proses yang membuat orang belajar. Setiap proses pembelajaran tersebut, peranan guru selaku pendidik bertugas membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan mudah. Di samping itu, siswa selaku peserta didik berusaha untuk mencari informasi, memecahkan masalah, dan mengemukakan pendapatnya. Inti dari proses pendidikan adalah proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Dengan demikian, perbaikan mutu pendidikan harus dimulai dengan menata dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.


Proses pembelajaran yang berkualitas dapat tercipta apabila siswa dan guru berperan aktif di dalamnya. Siswa dan guru berinteraksi dalam suatu kegiatan yang disebut dengan pembelajaran serta berlangsung dalam proses pembelajaran. Upaya mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien maka pengajar hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu mewujudkan perilaku belajar siswa melalui interaksi pembelajaran yang efektif dalam proses pembelajaran yang kondusif. Oleh karena itu, salah satu usaha yang dapat dilakukan guru adalah merencanakan dan menggunakan model pembelajaran yang dapat mengkondisikan siswa agar belajar secara aktif. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa adalah model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).


Model PAKEM merupakan salah satu dari model pembelajaran aktif (Active Learning) yang mulai dikembangkan pada tahun 1999 hingga sekarang di Indonesia. Awal mula istilah PAKEM muncul dari istilah AJEL (Active Joyful an Effective Learning). Untuk pertama kalinya, di Indonesia pada tahun 1999 dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan). Namun seiring dengan perkembangan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) di Indonesia pada tahun 2002, istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu akronim dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. 
Seiring dengan berjalannya waktu serta tuntutan dalam dunia pendidikan, maka model PAKEM ini mulai dikembangkan dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) agar proses pembelajaran semakin maju, lebih efisien dan efektif sehingga tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Pada dasarnya peran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam PAKEM berfungsi sebagai media yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini guru menggunakan peranti laptop atau Personal Computer, proyektor, internet serta software media presentasi.


Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan serta memanfaatkan perangkat TIK dalam pembelajaran ditegaskan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah di dalam Bab II. Standar Penyelenggaraan, Bagian Ketiga mengenai Standar Penyelenggaraan, dalam Pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa “Proses Pembelajaran sebagaimana dimaksud ayat (1) menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, aktif , kreatif, efektif, menyenangkan dan kontekstual”. Sejalan dengan peraturan tersebut siswa dituntut untuk aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran dan guru sebagai fasilitator dan motivator dituntut untuk menciptakan kondisi yang efektif dan menyenangkan.


Berdasarkan hasil observasi pada kelas X TKJ di SMK XXXXXXXXXX diperoleh gambaran kondisi siswa saat proses pembelajaran berlangsung, terkhususnya pada mata pelajaran Produktif TKJ. Setelah melakukan observasi di seluruh kelas X TKJ, ternyata di kelas X TKJ X ditemukan fakta bahwa dalam proses pembelajaran, guru telah menggunakan model pembelajaran aktif dengan penggunaan metode ceramah dan tanya jawab. Akan tetapi selama proses pembelajaran berlangsung terutama pada saat tanya jawab, teramati hanya beberapa dari siswa yang aktif. Sedangkan siswa yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing yang tidak ada sangkut pautnya dengan materi yang diajarkan. Saat diberi kesempatan untuk bertanya, siswa hanya berbisik-bisik dengan temannya, bahkan sebagian besar hanya diam. Sedangkan saat diberi kesempatan untuk menjawab, siswa akan menjawab secara bersama-sama dan seorang siswa akan menjawab suatu pertanyaan apabila ditunjuk langsung oleh guru. Siswa tidak mempunyai keberanian untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan. Selain mengadakan observasi, diadakan juga wawancara dengan beberapa siswa. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan faktor mengakibatkan siswa kurang perhatian dalam penyampaian materi adalah metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran tidak bervariasi dan tidak efektif sehingga menimbulkan kejenuhan siswa dan pemahaman menjadi kurang optimal.


Melihat permasalahan yang ada pada kelas X TKJ X di SMK XXXXXXXXXX, maka penelitian ini berusaha memberikan solusi untuk meningkatkan hasil belajar yaitu dengan menerapkan model PAKEM berbasis TIK dalam proses pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran produktif TKJ karena di dalam prosesnya model PAKEM tidak hanya membuat siswa aktif, tetapi model ini juga mampu mengoptimalkan kreativitas yang ada dalam diri siswa. Sedangkan guru dalam PAKEM diwajibkan mampu mengaktifkan siswa dan mengoptimalkan kreativitas melalui penggunaan metode dan media pembelajaran bervariasi sehingga tercipta proses pembelajaran efektif dan menyenangkan.

Contoh Penulisan Proposal Skripsi Yang Baik dan Benar | BAB I Pendahuluan.

BAB  I
PENDAHULUAN
 
A.    Latar Belakang Masalah
Islam mengatur hubungannya manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya serta dengan alam semesta. Hubungan manusia dengan Tuhannya terwujud dalam bentuk ibadah dan disiplin pribadi tercermin dalam sikap pribadinya terhadap Allah SWT dan sikap inilah yang disebut dengan akhlak.
Akhlak merupakan suatu unsur yang sangat vital dalam Islam, hingga mampu membawa manusia ke jenjang keberhasilan dengan akhlak mazmumahnya. Disamping itu, akhlak dengan agama merupakan dua hakekat yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana lazimnya dalam agama di luar Islam.
Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menganjurkan agar betul-betul panca indera yang telah dianugerahkan itu sesuai dengan ajaran agama. Dan ancaman Allah pun akan datang bagi orang-orang yang tidak mempergunakan pancaindera dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 179, sebagai berikut:
ô‰s)s9ur $tRù&u‘sŒ zO¨YygyfÏ9 #ZŽÏWŸ2 šÆÏiB Çd`Ågø:$# ħRM}$#ur ( öNçlm; Ò>qè=è% žw šcqßgs)øÿtƒ $pkÍ5 öNçlm;ur ×ûãüôãr& žw tbrçŽÅÇö7ム$pkÍ5 öNçlm;ur ×b#sŒ#uä žw tbqãèuKó¡o„ !$pkÍ5 4 y7Í´¯»s9'ré& ÉO»yè÷RF{$%x. ö@t/ öNèd ‘@|Êr& 4 y7Í´¯»s9'ré& ãNèd šcqè=Ïÿ»tóø9$# ÇÊÐÒÈ  

“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Itulah Allah menciptakan manusia dan menurunkan Al-Qur’an agar dipelajari dan dipahami, sehingga akan menumbuhkan akhlak yang baik yang tidak mungkin dapat tergoyahkan dengan situasi bagaimanapun juga. Di sisi lain agama adalah seperangkat peraturan yang diyakini oleh manusia dalam usahanya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta serta untuk mencari hakekat hidup dan kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, bagi bangsa yang bersosio religius perlu menghadirkan pendidikan agama agar manusia dapat merealisasikan aktivitas sebagaimana keistimewaan potensi (fitrah) yang dimilikinya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 30
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ  

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Meskipun demikian potensi itu kurang bermakna dalam kehidupannya kalau tidak dikembangkan. Salah satu alat pengembangan ini sepenuhnya dilakukan dengan proses pendidikan melalui pemahaman terhadap akhlak. Usaha-usaha positif dan konstruktif untuk memperbaiki siswa prosesnya terus dilakukan hal ini mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas sehingga mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 4 yaitu:
”Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 138-139

#x‹»yd ×b$u‹t/ Ĩ$¨Y=Ïj9 “Y‰èdur ×psàÏãöqtBur šúüÉ)­GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ   Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRt“øtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷s•B ÇÊÌÒÈ  

”138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. 139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Tafsiran ayat di atas berhubungan dengan tujuan pendidikan, yaitu menciptakan orang yang bertaqwa dan memiliki mental yang kuat. Dari rumusan tersebut, tersirat bahwa tujuan pendidikan dalam Q.S. Ali Imran ayat 138-139 dan tujuan pendidikan nasional selain untuk meningkatkan kualitas juga untuk mengembangkan sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berkeinginan untuk maju dan dilandasi keimanan dan ketaqwaan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sekolah sebagai salah satu lembaga formal merupakan tempat belajar. Dalam proses belajar mengajar diperlukan kondisi yang optimal. Kondisi optimal tersebut dapat dicapai manakala guru mampu mengatur siswa dan sarana pendidikan serta mengendalikan dalam usaha yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran dan pendidikan yang efektif dan efisien.
Pada dasarnya setiap siswa ingin memperoleh prestasi yang gemilang menjadi pelajar teladan dan murid terbaik di sekolahnya. Untuk mencapai keberhasilan dan mewujudkan cita-cita tersebut, mereka dituntut untuk belajar yang efektif dan efisien, dapat mengatur waktu kapan bermain dan kapan untuk belajar. Selain itu, mereka dituntut mentaati sejumlah peraturan dan melaksanakan kewajiban dengan serius dan penuh kesadaran.
Pada dasarnya disiplin itu adalah kesadaran jiwa seseorang, yang penuh dengan kesadaran dan kesediaannya mentaati sejumlah peraturan yang ditimpakan kepada dirinya. Dalam kaitannya dengan belajar, maka disiplin dapat diartikan sebagai alat pendidikan untuk melatih kebiasaan yang dipandang baik dan berfaedah bagi siswa. Cara belajar yang baik adalah disiplin, The Liang Gie (1985:59) mengemukakan: dengan berdisiplin selain akan membuat seseorang siswa memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses kearah pembentukan watak yang baik. Watak yang baik dalam diri seseorang akan menciptakan suatu pribadi yang luhur, berguna bagi masyarakat dan negara.

Adapun mengenai kedisiplinan belajar siswa ini merupakan perwujudan setelah siswa memahami mengenai materi akhlak yang diberikan dalam proses belajar. Salah satu faktor yang paling dominan dalam suatu sekolah yaitu: suatu sikap yang diarahkan agar siswa memiliki kesiapan dan kesediaan untuk berbuat dan bertingkah laku yang benar, tepat dan sesuai dengan peraturan yang berlaku, khususnya dalam kehidupan di lingkungan sekolah, karena itu khususnya faktor kedisiplinan perlu dipelihara dan dibina.
Melihat latar belakang di atas, maka diperlukan pendekatan pemahaman mengenai akhlak agar dapat dibentuk watak melaui perilaku siswa dalam disiplin belajar. Itulah kiranya yang melatarbelakangi penulis dalam penyusunan skripsi yang berjudul ”PEMAHAMAN SISWA DALAM BIDANG STUDI AKHLAK HUBUNGANNYA DENGAN DISIPLIN BELAJAR MEREKA” (Penelitian Pada Siswa kelas VII MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya).

B.     Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah-masalah penelitian sebagai berikut:
1.      Bagaimana pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya?
2.      Bagaimana disiplin belajar mereka di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya?
3.      Bagaimana pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak hubungannya dengan disiplin belajar mereka di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya?
C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai hal-hal sebagai berikut:
a.       Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya
b.      Untuk mengetahui disiplin belajar mereka di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya
c.       Untuk mengetahui hubungan antara pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak dengan disiplin belajar mereka di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya
D.    Kerangka Pemikiran
Menurut Afifuddin (2005:50), pemahaman merupakan kemampuan memahami arti atau makna dari sesuatu materi pelajaran, seperti menafsirkan, menjelaskan atau meringkas tentang sesuatu. Kemampuan semacam ini lebih tinggi daripada pengetahuan.
Pemahaman muncul pada diri seseorang setelah ia melakukan penginderaan atas suatu objek yang melibatkan otak dan hati sebagai pemroses objek tersebut. Pemahamanpun akan muncul dalam bentuk kesadaran dan selanjutnya dalam perkataan dan perbuatan. Adanya pemahaman yang dimanifestasikan dalam perbuatan atau perkataan, menunjukkan bahwa pemahaman sebagai bagian dari ranah kognitif akan berakibat kepada perilaku seseorang (ranah psikomotor). Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Muhibbin Syah (1995:65) bahwa jika ada keberhasilan dalam perkembangan ranah kognitif, maka besar kemungkinan dampak positif yang akan ada dalam diri seseorang baik itu ranah afektif mupun ranah psikomotor.
Pernyataan di atas memberi pemahaman kepada kita bahwa jika seseorang paham akan suatu hal, objek atau materi, maka besar kemungkinan perilaku yang ia tampakkan akan sesuai dengan tujuan dan harapan dari materi atau sesuatu yang dipahaminya. Hal tersebut diungkapkan oleh Muhibbin Syah (1995:83) bahwa upaya pengembangan fungsi ranah kognitif akan berdampak positif bukan hanya pada ranah kognitif sendiri, melainkan terhadap ranah afektif dan psikomotor. Dengan kata lain bahwa munculnya kesadaran siswa untuk melaksanakan sesuatu perbuatan (disiplin) diawali oleh adanya pemahaman yang tinggi akan materi objek yang telah dipelajari.
Dengan uraian teori di atas, jelas bahwa pemahaman siswa yang tinggi terhadap bidang studi akhlak, akan menimbulkan pada diri siswa untuk melakukan disiplin belajar mereka. Secara umum, Nana Sudjana (1992:24) membagi pemahaman ke dalam 3 kategori yaitu:
Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya.
Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi diharapkan seseorang mampu membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalahnya.

 Akhlak menurut Asmaran (2002:3) ialah ”Suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dan jiwa menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran”. Sedangkan akhlak menurut Ahmad Amin yang dikutif Ya’qub (1996:12) bahwa ”Akhlak adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan  buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat”. Menurut A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari, (1999:73) ”Akhlak ini lebih luas artinya daripada moral atau etika yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia sebab akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang. Menurut Muslim Nurdin, dkk (1995:205) ”Secara etimologis akhlak berarti perangai, adat, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat. Secara istilah akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di atas bumi”.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan suatu sifat atau keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan segala perbuatan dengan mudah tanpa melalui proses pertimbangan terlebih dahulu. Dengan perkataan lain, perbuatan seseorang pada dasarnya merupakan perwujudan akhlak yang dimilikinya dan sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia. Oleh karena itu, akhlak dalam Islam menempati permasalahan sentral, mengingat ia merupakan buah perjuangan aqidah dan ibadah. Berdasarkan pernyataan di atas, jelaslah arti pentingnya akhlak Islam dalam membina dan mengarahkan umatnya ke jalan yang lurus dan benar demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela. Akhlak yang baik adalah cerminan dari iman yang benar dan sempurna. Dengan istilah lain yang menjadi dasar utama dari perbuatan itu adalah iman yang benar dan sempurna. Untuk menciptakan iman yang dimaksud dapat dicapai dengan memperbanyak amal shaleh dan tingkah laku yang mulia. Ini dapat dilakukan  dengan baik jika ia melatih diri berbuat baik dan mulia. Akhlak yang baik tidak langsung ada pada diri manusia, melainkan harus diupayakan dan diikhtiarkan sekalipun pada dasarnya manusia mempunyai potensi dasar yang baik. Salah satu upaya yang baik dan terpuji adalah melalui pemahaman akhlak agar dapat bertingkah laku disiplin.
Kemudian R. Manan (1988:68) mengemukakan bahwa disiplin adalah kesediaan untuk melakukan kewajiban atau mentaati peraturan dan tata tertib, bukan karena paksaan dari luar akan tetapi kesadaran dalam diri sendiri. Dari pengertian tersebut, jelas bahwa disiplin pada dasarnya menyangkut kesadaran diri pribadi. Ia sebenarnya berada dalam diri tiap-tiap individu.
   
Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran di atas dapat dilihat dalam skema di bawah ini:


E.     Hipotesis
Menurut Cik Hasan Bisri (2001:56) ”Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang diajukan terhadap masalah yang telah dirumuskan”. Hipotesis selalu disajikan dalam bentuk statement yang berhubungan dengan eksplisit maupun implisit satu variabel dengan satu atau lebih variabel lainnya.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut ”Terdapat hubungan positif antara pemahaman pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak dengan disiplin belajar mereka”. Artinya jika pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak tinggi, maka disiplin belajar mereka juga tinggi atau  sebaliknya, jika pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak rendah, maka disiplin belajar mereka rendah. Dalam kata lain, semakin tinggi pemahamann siswa dalam bidang studi akhlak, semakin tinggi pula disiplin belajar mereka, dan sebaliknya, semakin rendah pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak, semakin rendah pula disiplin belajar mereka. Untuk menguji hipotesis tersebut, akan digunakan teknik analisis korelasi yaitu menggunakan rumus korelasi product moment. Untuk menguji signifikansi koefisien korelasi akan dilakukan dengan menggunakan uji t, yaitu dengan membandingkan antara thitung dengan ttabel.
F.     Langkah-langkah Penelitian
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif namun ada juga jenis data kuantitatif sebagai data pelengkap yang mendukung kebenaran penelitian ini.
2.      Menentukan Sumber Data
a.  Lokasi Penelitian
Yang dijadikan lokasi dalam penelitian ini adalah MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya pada siswa kelas VII. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian, karena disinilah permasalahan ditemukan.
b.  Populasi dan Sampel
Populasi adalah obyek yang diteliti baik berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang diperlukan untuk memecahkan masalah. (Ali, 1985:54). Berdasarkan pengertian tersebut, penulis dapat menentukan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kecamatan Manonjaya yang berjumlah 45 orang.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (1993:102-104) bahwa ”populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, dan sampel adalah sebagian atau wakil populasi. ”
Dalam penelitian ini penarikan sampel akan mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto (1998:104) yang menyatakan bahwa ”Jika populasi lebih dari 100 orang, maka sampelnya diambil 10 - 15% atau 20 - 25% atau lebih. Sedangkan apabila populasinya kurang dari 100, disarankan seluruhnya dijadikan sampel. Berdasarkan ketentuan tersebut, mengingat jumlah siswa kelas VII MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kabupaten Tasikmalaya, yang diteliti hanya 45 orang, maka seluruhnya dijadikan sampel.
3.      Menentukan Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, penulis akan mengoperasikan metode deskriptif yaitu metode penelitian yang tertuju pada masalah yang ada pada masa sekarang, pelaksanaan metode deskriptif  tidak terbatas pada pengumpulan data, akan tetapi meliputi analisis dan menginterpretasikan tentang arti data tersebut. (Surachmad, 1982:139)
Untuk melaksanakan metode deskriptif tersebut pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.       Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu usaha mengumpulkan data atau informasi yang bersifat teoritis yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Seorang penyelidik dalam setiap lapangan ilmu pengetahuan memerlukan fasilitas-fasilitas kepustakaan guna kesempurnaan penyelidikan (Winarno, 1979:238). Studi kepustakaan ini menggunakan berbagai macam material kepustakaan seperti buku, majalah, catatan, dokumen, dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan untuk bahan acuan baik yang berupa teori maupun konsep yang dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang sedang dihadapi dalam penelitian
b.      Studi Lapangan
Studi lapangan yaitu penulis langsung mengadakan penelitian di MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya dengan cara yang ditempuh sebagai berikut:
1.      Observasi, yaitu suatu cara untuk mengadakan evaluasi dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, dan rasional mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki. (Arifin, 1990:49). Data-data diperoleh dalam observasi dicatat dalam suatu catatan observasi. Sasaran yang dituju melalui pemanfaatan teknik ini adalah kondisi siswa-siswi kelas VII MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kecamatan Manonjaya
2.      Wawancara, yaitu salah satu teknik pengumpulan dan pencatatan data, informasi dan atau pendapat yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab baik langsung maupun tidak langsung dengan sumber data (Arifin, 1990:54). Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data yang tidak dapat ditemukan melalui observasi dan angket yang lebih fleksibel dan dinamis dalam penggunaannya. Informasi yang diharapkan adalah dari siswa-siswi Kelas VII MTs. Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya.
3.      Angket, yaitu teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. (Soehartono, 1995:165). Angket digunakan untuk memperoleh data tentang realita disiplin belajar siswa kelas VII MTs Al-Muawwanah Desa Cilangkap Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya sebagai sampel.
4.      Tes merupakan alat atau prosedur yang dipergunakan untuk mengukur atau mengetahui sesuatu dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Suharsimi Arikunto, 2001:253). Dalam hal ini penulis ingin mengukur sejauhmana pemahaman siswa tentang Ahklak. Tes ini dibentuk dalam susunan pertanyaan dengan alternatif jawaban a, b, c, dan d. Adapun penskoran dipedomani sebagai berikut. Skor 5 untuk siswa yang menjawab benar dan 0 untuk siswa yang menjawab salah akan diperoleh skor tertinggi siswa, yaitu 20 x 5 = 100, dan skor terendah siswa akan diperoleh yaitu 20 x 0 = 0. Dalam hal ini penulis akan mengajukan 20 item pertanyaan.
  
4.      Menentukan Prosedur Analisis Data
a.       Deskripsi Data
Deskripsi data adalah untuk mendeskripsikan data yang digunakan untuk mendalami dua variabel yang akan dideskripsikan. Untuk setiap indikator menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Menentukan rata-rata (M), skor setiap indikator masing-masing variabel yaitu:
-  Untuk variabel X dengan rumus :
-  Untuk variabel Y dengan rumus
                    (Anas Sudjiono, 1995:78)
Setelah diketahui nilai rata-rata dari setiap variabel kemudian proses penafsiran dan interpretasi sebagai berikut:
Antara 0,50 – 1,50  =  sangat rendah
Antara 1,51 – 2,50  =  rendah
Antara 2,51 – 3,50  =  cukup
Antara 3,51 – 4,50  =  tinggi
Antara 4,51 – 5,50  =  sangat tinggi
2)      Test Tendensi Sentral
a.       Menentukan rentang skor (R), dengan rumus :
R = H – L + 1                                     (Anas Sudjono, 2001:49)
b.      Menentukan banyaknya kelas interval, dengan rumus:
K = 1 + 3,3 log n                                 (Sudjana, 2002:47)
c.       Menentukan panjang kelas interval, dengan rumus:
P = R : K                                             (Sudjana, 2002:47)
d.      Menentukan tabel distribusi frekuensi
e.       Mencari nilai rata-rata (mean), dengan rumus:
                                                    (Sudjana, 2002:67)
f.       Mencari nilai tengah (median), dengan rumus:
                                     (Sudjana, 2002:67)
g.      Mencari modus, dengan rumus:
                                      (Sudjana, 2002:67)
h.      Membuat kurva dengan kriteria sebagai berikut:
iMe > Md > Mo = kurva juling negatif
Me < Md < Mo = kurva juling positif
i.        Mencari standar deviasi, dengan rumus:
                        (Sudjana, 2002:95)
j.        Membuat tabel frekuensi observasi ekspektasi
  
 b.      Uji Normalitas melalui uji Chi Kuadrat (χ2), yaitu :
a.       Mencari nilai chi kuadrat (χ2) hitung dengan rumus
                                         (Sudjana, 2002:273)
b.      Mencari derajat kebebasan (dk), dengan rumus:
dk = K – 1                                                       (Sudjana, 2002:273)
c.       Menentukan chi kuadrat χ2 tabel dengan taraf signifikansi 5%
d.      Menentukan normal tidaknya data dengan kriteria sebagai berikut:
·          data dikatakan berdistibusi normal jika χ2 hitung < χ2 tabel
·          data dikatakan berdistribusi tidak normal jika χ2 hitung > χ2 tabel
1)      Penafsiran tendensi sentral Variabel X dan Y dengan catatan jika data yang berdistribusi normal maka cukup rata-rata (mean nya saja) untuk ditafsirkan, jika data tidak berdistribusi normal maka penafsirannya harus dilihat ketiga tendensi sentral (mean, median, modus)
c.       Analisis Korelasi
Setelah data kedua variabel dianalisis secara terpisah, maka langkah selanjutnya menganalisis hubungan antara variabel X dan Y, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Membuat tabel untuk mencari yang diperlukan untuk pengujian linieritas regresi serta analisis koefisien korelasi
Menentukan persamaan regresi linier dengan rumus:
        (Sudjana, 2002:312)
                 (Sudjana, 2002:315)
                           (Sudjana, 2002:315)
2)      Uji linieritas regresi
a.       Menghitung jumlah kuadrat regresi a (Jka) dengan rumus:
                                                (Sudjana, 2002:335)
b.      Menghitung jumlah kuadrat gabungan antara koefisien a dan b
              (Sudjana, 2002:335)
c.       Menghitung jumlah kuadrat residu, dengan rumus:
JKres = Yi2 – JKa – JK(b/a)                                 (Subana, 2005:163)
d.      Menghitung dengan jumlah kuadrat kekeliruan, dengan rumus:
Jkkk =                                     (Sudjana, 2002:331)
e.       Menghitung jumlah kuadrat ketidakcocokan (Jkte), dengan rumus:
Jkte = Jkres – Jkkk                                                              (Sudjana, 2002:333)
f.       Menghitung derajat kebebasan kekeliruan (dbkk), dengan rumus:
dbkk = n – k                                                     (Subana, 2005:163)
g.      Menghitung derajat kebebasan ketidakcocokan (dbte), dengan rumus:
dbte = k – 2                                                      (Subana, 2005:163)
h.      Menghitung rata-rata kuadrat kekeliruan (Rkkk), dengan rumus:
Rkkk = Jkkk – dbkk                                                          (Subana, 2005:163)
i.        Menghitung rata-rata kuadrat ketodakcocokan (Rkte), dengan rumus:
Rkte = JKte – dbte                                                            (Subana, 2005:163)
j.        Menghitung nilai frekuensi ketidakcocokan (Fte), dengan rumus:
Fte = Rkte – Rkkk                                                               (Subana, 2005:164)


k.      Menentukan Ftabel pada taraf signifikansi 5%, dengan rumus:
F(a) (dbte/dbkk)                                                                         (Subana, 2005:164)
Hasil dari perhitungan di atas, ditentukan linieritas regresi dengan ketentuan sebagai berikut:
·          Jika Fte < F tabel maka regresi tersebut linier
·          Jika Fte > F tabel maka regresi tersebut tidak linier
    1. Jika kedua variabel berdistribusi normal dan regresinya linier, maka dipergunakan rumus produk moment
     (Arikunto, 2006:274)
    1. Jika salah satu atau kedua variabel tidak berdistribusi normal atau regresinya tidak linier, maka dipergunakan statistik korelasi Rank Spearman
                                             (Arikunto, 2006:278)
3)      Menghitung Uji Hipotesis
-          Hipotesis yang diuji ialah
Ho : ρxy = 0
(tidak terdapat hubungan antara pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak dengan disiplin belajar mereka)
Ha : ρxy = 0
(terdapat hubungan antara pemahaman siswa dalam bidang studi akhlak dengan disiplin belajar mereka)
Menghitung uji signifikansi koefisien korelasi dengan menggunakan uji t:
a.       Menentukan thitung dengan rumus:
                                                    (Sujana, 2002:380)
b.      Mencari derajat kebebasan (db), dengan rumus:
db = n – 2                                                        (Subana, 2005:145)
c.       Menentukan penafsiran koefisien korelasi, dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
0,00 – 0,20 = korelasi sangat sangat rendah
0,21 – 040 = korelasi sangat rendah
0,41 – 0,60 = korelasi sangat sedang
0,61 – 0,80 = korelasi sangat tinggi
0,81 – 1,00 = korelasi sangat tinggi sekali      (Yaya dan Tedi, 2007:223)
d.      Menentukan ttabel dengan taraf signifikansi 5%
4)      Menentukan koefisien determinasi (KD) yaitu kadar pengaruh (kontribusi X terhadap Y) dengan menggunakan rumus, yaitu:
KD = r2 x 100                                                       (Subana, 2005:145)



Pengunjung